anotasi.id
Mencatat Dengan Terang & Kritis

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Cerita Ibu Nuraini, Potret Gagalnya Pemkot Tangsel Mensejahterakan Masyarakatnya

12

Cerita Ibu Nuraini, Potret Gagalnya Pemkot Tangsel Mensejahterakan Masyarakatnya

Editor : Yodi,   
Opini : Jupry Nugroho (Wakil Koord. TRUTH),  
Rabu 23 September 2020.  

Tangsel – anotasi.id | Ketimpangan menjadi Pekerjaan rumah yang sampai hari ini tidak pernah terselesaikan oleh Pemerintah Kota Tangsel, terlebih kesejahteraan masyarakatnya.

Salah satunya cerita Ibu Nuraini, warga Kampung Jaletreng, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Tangsel. Ia dan keluarganya harus tinggal di rumah sangat tidak layak, yang sudah ditempatinya selama lima tahun.

Lokasinya berada ditengah gemerlap deretan rumah mewah yang hanya berjarak beberapa meter, ini salah satu persoalan tidak adanya perhatian pengembang terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat disekitar.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Disisi lain tidak jauh dari rumah Ibu Nuraini, ternyata ada rumah Dinas Walikota Tangsel yang begitu mewah yang telah menelan anggaran Rp 9 Miliyar seolah congkak berdiri tidak bergeming.

Tentu kami sebagai masyarakat mempertanyakan bagaimana Pemkot Tangsel melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta) memetakan persoalan Rumah Tak Layak Huni (RUTLH).

Karena jika program tersebut sudah berjalan sejak tahun sebelumnya, bagaimana mungkin Ibu Nuraini tidak masuk dalam penerima manfaat sedangkan dirinya berKTP Tangsel.

Lalu timbul pertanyaan Lurah dan Camat sudahkah berkerja untuk berkordinasi atau mungkin tidak tau jika ada wargnya harus tidur digubuk reot.

Padahal ada anggaran Rp22 Miliyar untuk Rumah Tak Layak Huni (RUTLH) di tahun 2020 ini, jika memang sudah ada pemetaan sebelumnya lalu bagaimana proses pelaksanaannya.

Cerita Ibu Nuraini adalah potret muram Pemkot Tangsel dalam mensejahterakan masyarakatnya, 10 tahun sudah Walikota Airin Rachmi Diany dan Wakil Walikota Benyamin Davnie menjabat sudah seharusnya tidak ada lagi cerita seperti Ibu Nuraini, yang harus berbagi tidur dengan tikus atau warga yang harus tidur dikandang bebek seperti yang terjadi di Kademangan beberapa waktu yang lalu.

Sudah seharusnya Pemkot Tangsel melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta) mempublikasi terkait anggaran RTLH dan sudah sejauh mana Evaluasi dan monitoring yang sudah dilakukan serta proses laporan pemetaan RTLH yang sudah dilakukan agar dikemudian hari, kita sebagai masyarakat dapat berpartisipasi serta tidak ada lagi cerita seperti Ibu Nuraini, jangan sampai program seperti RTLH dijadikan bancakan segelintir orang untuk mendapatkan keuntungan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like