anotasi.id
Mencatat Dengan Terang & Kritis

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Kemana Aparatur Pemerintah dan Penegak Hukum Di Tangsel, Harus Mabes Polri Tegakkan Perwal ?

14
Editor : Yodi
Penulis : Feby

Tangsel – anotasi.id | Bareskrim Polri lakukan penggerebek terhadap salah satu tempat karaoke di BSD Kota Tangerang Selatan, (Rabu malam, 19 Agustus 2020). Ditengarai karena dijadikan kawasan lokalisasi bermodus Karaoke.

Jadi pertanyaan kenapa Bareskrim Polri turun tangan, padahal di Tangsel sudah memiliki kantor Polres sendiri dan terlebih lagi kenapa bukan Satpol PP Tangsel?.

Padahal yang dipermasalahkan petugas Kepolisian dari Mabes Polri adalah soal beroperasinya tempat hiburan tersebut di saat PSBB dan soal adanya praktik prostitusi.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Artinya kenapa harus aparat Kepolisian dari tingkat pusat yang sampai turun tangan untuk menegakan Peraturan Wali kota Nomor 13 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Penanganan Covid-19.

Tempat karaoke itu, bernama Venesia BSD Karaoke Executive. Penggerebekan itu dipimpin langsung oleh, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo.

Karaoke Venesia BSD diduga menjadi tempat tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus eksploitasi sexsual pada masa pandemi COVID-19.

Brigjen Ferdy Sambo menjelaskan, beroperasinya Karaoke Venesia BSD melanggar Pasal 9 Ayat (1) dan (2) Peraturan Wali Kota Tangsel Nomor 32 Tahun 2020 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Wali kota Nomor 13 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Penanganan Covid-19.

Padahal saait ini Kota Tangerang Selatan masih berlakukan perpanjangan masa PSBB sejak 9 Agustus hingga 23 Agustus 2020.

Dari keterangan polisi, tempat hiburan tersebut diketahui telah beroperasi sejak awal Juni 2020. Pihak Kepolisian menemukan sebanyak 47 pemandu lagu yang diamankan berstatus korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). “Bermoduskan eksploitasi seksual pada masa pandemi COVID-19.

Selain itu Kepolisian juga mengamankan 13 orang, yang terdiri dari : tiga orang kasir, seorang supervisor, seorang manager operasional, seorang general manager, dan tujuh orang muncikari.

Dilokasi petugas kepolisian juga menemukan, 14 baju kimono Jepang sebagai kostum pekerja, kwitansi 1 bundel, voucher ladies 1 bundel, uang Rp730.000 bookingan ladies mulai dari 1 Agustus 2020, 3 unit mesin edc, 12 kotak alat kontrasepsi, 1 bundel form penerimaan ladies, 1 bundel absensi ladies, komputer 3 unit, mesin penghitung uang 1 unit, printer 3 unit, dan kwitansi hotel 2 lembar.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like