anotasi.id
Mencatat Dengan Terang & Kritis

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Malika Banten: Gerakan Peduli Lingkungan Belum Menjadi Isu Bersama

486
krishudaqrs 20210423 0001
Foto : Direktur Eksekutif MALIKA Syarif Hidayat

Kab Pandegelang – anotasi.id | Peringatan hari bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April setiap tahunnya dirasa hanya dijadikan perayaan seremonial saja, tanpa adanya refelksi mengapa diadakannya peringatan hari bumi setiap tahunnya.

Tingkat kepedulian terhadap lingkungan semakin rendah, pemerintah berselingkuh dengan korporasi dengan mengobral izin pengelolaan sumber daya alam dengan dalih investasi menabrak segala aturan terkait kelestarian lingkungan.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif MALIKA Syarif Hidayat ketika ditanya mengenai catatan apa saja dalam peringatan hari bumi yang setiap tahun di peringati oleh masyarakat seluruh dunia. Kamis (22/04/2021).

“Tingkat kepedulian masyarakat masih sangat rendah, terlebih sampai dengan saat ini, kita masih enggan untuk peduli terhadap kelangsungan lingkungan kita kedepan, bumi kita disana sini masih terus di ekplorasi, di ekploitasi tanpa recovery yang benar, lubang tambang batubara dimana mana, gunung banyak diratakan padahal masih di pinggiran kota” paparnya.

Menurutnya gerakan peduli lingkungan masih jadi domain ekslusif orang-orang tertentu, padahal kesehatan bumi dirasakan oleh semua orang. Masyarakat perkotaan masih enggan memahami bagaimana asal fasilitas yang mereka dapatkan berasal, listrik yang di pakai masih disuplai oleh tenaga fosil batubara tetapi perilaku pengunaanya masih semena-mena tidak dikontrol.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

“Alih-alih mengkampanyekan energi alternatif yang hijau, sebagai bentuk dukungan, justru sebagian besar kalangan masyarakat justru tidak peduli, malah salah menilai upaya untuk menolak pembangunan PLTU yang berbasis fosil sebagai gerakan yang menganggu, PLTU Suralaya misalkan, masyarakat secara luas masih enggan menyuarakan kepedulian nya terhadap kerusakan lingkungan yang timbul, mulai dari asap karbon sampai pada pemenuhan tungku pembakaran yang berbahan batu bara serta pengelolaan hulu dan hilirnya yang banyak menimbulkan kerusakan” pungkasnya.

Pada tahun 2020 beberapa kelompok masyarakat menemukan adanya dugaan kerusakan ekosistem laut akibat tumpahan batu bara di area jeti atau dermaga loading PLTU Suryalaya dengan perkiraan volume tumpahan mencapai 19.000 ton selama unit tersebut beroperasi.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com