anotasi.id
Mencatat Dengan Terang & Kritis

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Menolak Lupa, Mengenang 16 Tahun Kepergian Munir

54

Menolak Lupa, Mengenang 16 Tahun Kepergian Munir

ham
Editor : Yodi,      Penulis : Septian

Anotasi.id | Gus Dur pernah memanggil dan menawari munir untuk menjadi Jaksa Agung dengan tugas utama menyelesaikan kasus-kasus HAM.

Munir menjawab : “Karir tertinggi seorang Aktivis bukanlah Jabatan, Tapi Mati” – Munir Said Thalib- 8 Desember 1965 – 7 September 2004 Hari ini tepat 16 Tahun sudah kita mengenang kematian Munir Said Thalib yang meninggal dunia setelah diracun dalam penerbangan menuju Amsterdam, Belanda, pada 7 September 2020.

Munir dikenal sebagai Aktivis Sekaligus Pejuang Hak Asasi Manusia, Kematian Munir membuat geger Masyarakat Indonesia. Sampai saat ini para aktivis, pejuang HAM, dan warga turun ke jalan, mereka menuntut pengusutan tuntas kasus ini.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

*Mengenang Masa Muda Munir.*

Munir Said Thalib lahir di Malang, 8 Desember 1965. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara Said Thalib dan Jamilah. Munir sempat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan mendapat gelar sarjananya.

Selama menjadi mahasiswa, Munir dikenal sebagai aktivis kampus yang sangat gesit.

Ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 1988, Koordinator Wilayah IV Asosiasi Mahasiswa Hukum Indonesia pada tahun 1989, anggota Forum Studi Mahasiswa untuk Pengembangan Berpikir Universitas Brawijaya pada tahun 1988, Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 1988, Sekretaris Al-Irsyad cabang Malang pada 1988, dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

*Kasus Besar Yang Pernah Ditangani Munir.*

Munir banyak memberikan pendampingan pada kasus-kasus besar pelanggaran HAM. Seperti : Kasus tewasnya aktivis buruh Marsinah pada 1993, kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta pada 1997 dan 1998, Kasus Tanjung Priok 1984 – 1998, Dan penembakan mahasiswa dalam tragedi Semanggi I dan Semanggi II.

Ia juga pernah menangani kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak yang melawan pemerintah Indonesia untuk memerdekakan Timor Timur pada 1992. Ketika menjabat Dewan Kontras, namanya melambung sebagai seorang pejuang membela bagi orang-orang hilang yang diculik, Sikap berani dan sigapnya dalam menentang ketidakadilan oleh beberapa pihak pada masa pemerintahan Orde Baru, membuat Munir tak disukai oleh pemerintah.

*Kronologi Pembunuhan Munir.*

Munir berencana untuk mengenyam pendidikan di Universitas Utrecht Belanda. Senin, 6 September 2004 malam, Munir berangkat dari jakarta menggunakan pesawat garuda dengan Nomor Penerbangan GA-947 pukul 21.55 WIB.

Pesawat tiba sekitar pukul 00.40 waktu setempat di changi Singapura, kemudian melanjutkan perjalanan ke Amsterdam pukul 01.50.

Tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet.

Pilot meminta awak kabin untuk terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya pada saat itu.

Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.

*Perjalanan Keadilan Untuk Munir.*

Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia.

Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut.

Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden SBY juga membentuk tim investigasi independen, Sampai sat ini hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.

Jenazah Munir dimakamkan di taman makam umum kota Batu.

Ia meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan Alif Allende dan Diva. Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.

Penyelesaian kasus Munir yang terjadi sejak 7 September 2004 hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Suciwati Istri Munir dan sejumlah aktivis HAM tak lelah berjuang, menuntut pemerintah agar mengungkap sosok aktor intelektual di balik tewasnya sang aktivis.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.