anotasi.id
Mencatat Dengan Terang & Kritis

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

PDI-P Umumkan 75 Pasangan Calon Pilkada 2020, Taklepaskan Asumsi Politik Dinasti

19
Editor : Yodi
Penulis : Feby

Resmi, 75 pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah untuk Pilkada Serentak 2020, di umumkan DPP PDI Perjuangan. Digelar secara daring dari kantor DPP PDI-P Jl. Diponegoro Jakarta pada (Selasa 11 Agustus 2020).

Pengumuman secara langsung disampaikan oleh Puan Maharani, selaku ketua DPP PDI-P. Disaksikan Mega Wati Soekarno Putri selaku ketua umum dan Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto.

Diantara 75 nama paslon yang diumumkan, ada nama Drs. H. Muhammad dan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, sebagai paslon pada pilkada kota Tangerang Selatan (Tangsel). Bobby Afif Nasution dan Aulia Rahman sebagai paslon pada pilkada Kota Medan.

– Muhamad merupakan Sekretaris Daerah Kota Tangsel. Sejak awal memang sudah mendapatkan dukungan dari PDI-P untuk maju sebagai wali kota, meski statusnya bukan kader internal partai.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

– Sedangkan Sara adalah keponakan dari ketum Partai Gerindra Pabowo Subianto dan Direktur Utama PT Bima Sakti Mutiara yang sebelumnya di duga pernah terlibat dalam kasus eksportir benih lobster.

– Bobby merupakan menantu Presiden Joko Widodo. Dia tercatat sebagai kader PDI-P sejak Maret 2020.

– Aulia Rahman yang merupakan kader Partai Gerindra

Dengan diberikannya rekomendasi kepada Rahayu Saraswati dan Bobby Afif Nasution, ini artinya membuat PDIP dan Gerindra bakal berkoalisi dalam Pilkada 2020, mungkinkah akan samapai pada Pilpres 2024..?.

Mengutip kata Mega Wati Soekarno Putri melaui kompas.com, ” Dengan diumumkannya calon Pilkada 2020, ini sebenarnya adalah sebuah pemikiran ke depan yang saya bilang visioner untuk supaya kita sudah siap, siap, untuk nanti maju ke 2024,” saat memberikan arahan kepada 75 paslon usungan PDI-P, Selasa (11/8/2020).

Adanya anggapan melanggengkan politik Dinasti,

Mengutip pendapat Titi Anggraini Direktur Eksekutif Perludem, dari voaindonesia.com (04/08/2020). “Titi menegaskan dinasti di pilkada adalah refleksi dari praktek dinasti di partai politik. “Jadi praktik dinasti di partai dilanjutkan dengan pilkada. Biasanya berkaitan dengan penguasaan modal, lalu dia juga menguasai struktur partai dan akhirnya menentukan rekrutmen politik. Itu semua diatur oleh keluarga politik”.

Selain itu, ada keraguan terhadap kapasitas dan kompetensi kepemimpinan calon dari dinasti politik dibandingkan calon tunggal. Juga ada kencenderungan praktek korupsi yang melibatkan calon berlatar keluarga politik dan calon tunggal. “ujar Titi dalam diskusi virtual bertajuk Pilkada, Antara Dinasti dan Calon Tunggal”

Mengutip pernyataan, Ahmad Priatna Wakil Koordinator Truth (10/08/2020), dalam menyikapi kondisi politik di Kota Tangerang Selatan, yang tidak bisa lepas dari kedinastian.

“Jangan sampai ketika masyarakat tidak diberi pilihan yang sesuai harapan seperti gagasan pembaharu yang terlepas dari lingkaran Dinasti dan Oligarki, justru pilihan yang muncul dari pusaran kekuasaan yang sedang berkuasa, ancaman lahirnya kelompok Golput seacara ideologis akan muncul karena masyarakat beranggapan Pesta Demokrasi baik di pusat dan daerah tak ubah seperti dagelan yang dimainkan, semuanya hanya berbagi peran untuk berkuasa” tandas nana, yang juga mantan aktivis HMI.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like