anotasi.id
Mencatat Dengan Terang & Kritis

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

Pelajar Bantu Korban Penggusuran Di Tangerang, AGRIPALA Bawa Bantuan Makanan & Masker

888
Editor : Yodi,   Jurnalis : Nugroho, 

Tangerang – anotasi.id | Peduli kepada korban penggusuran di Kecamatan Benda. Sekelompok Pelajar di Kota Tangerang berikan bantuan makanan dan masker, pada hari minggu (13 september 2020).

Pelajar yang tergabung dalam Siswa siswi Pecinta Alam (AGRIPALA) SMKN 2 Kota Tangerang, yang diwakilkan oleh alumni datang langsung untuk memberikan bantuan.

Bantuan berupa puluhan paket makanan dan masker tersebut langsung diserahkan ke posko Darurat yang dirikan warga di RT 01/ RW 02 Kampung Baru, Kecamatan Benda Kota Tangerang.

Foto : Aksis sosial Agripala / Nugroho

Menurut Fajar Salah satu alumni Agripala SMKN 2 Kota Tangerang, bahwa bantuan yang diberikan sebagai bentuk rasa peduli terhadap para korban terutama anak-anak. Oleh sebab itu kami dan teman-teman dari AGRIPALA termasuk alumni berinisiatif untuk memberikan bantuan berupa makanan dan masker kepada korban penggusuran.

Iklan Hub : indonesiaanotasi@gmail.com

“Ini berawal dari pertemuan daring, ini saja yang bisa kami lakukan untuk membantu saudara kami yang sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi dan harus tinggal dikontrakan berdesakan, harapannya dengan datangnya kami dapat memberi semangat”, ungkap Fajar.

Nopita Fitriyani pelajar SMKN 2 Kota Tangerang yang juga anggota Agripala pengagas kegiatan tersebut ketika dihubungi melalui whatsapp menjelaskan bahwa ide muncul setelah melihat pemberitaan media bahwa adanya penggusuran di Kecamatan Benda, dirinya mengajak teman-teman dan alumni untuk membantu.

“Walaupun kami dan teman-teman tidak dapat hadir langsung hadir ke lokasi, harapan kami pemberian bantuan yang diwakili para alumni dapat membantu, serta tetap menjaga kesehatan dimasa pandemi, oleh sebab itu kami juga memberikan masker” pungkas Nopita.

Sedangkan Dari pantauan lokasi, tidak jauh dari posko darurat tampak raungan alat berat terus meratakan sisa reruntuhan rumah yang sudah hampir rata dengan tanah. Disudut reruntuhan rumah beberapa anak sedang bermain dengan para relawan dari beberapa organisasi mahasiswa yang mengajak bermain.

Salah satu korban penggusuran, Y (37) mengatakan, bahwa ada 72 kepala keluarga yang masih menuntut kejelasan atas hak tanah miliknya. Menurut Y (37) para warga tidak dibayar sesuai dengan harga, serta adanya perbedaan harga dibeberapa lokasi.

Foto : Lokasi penggusuran / Nugroho

“Tanah kami yang sudah ditempati berpuluh-puluh tahun hanya dibayar Rp2,6 juta, pada saat eksekusi lahan beberapa perlengkapan rumah tangga tidak dapat terselamatkan, karena dikeluarkan secara paksa, kami sudah mengadukan ke beberapa instansi. Saat ini yang bisa kami lakukan tetap berdoa”, tandas Y (37).

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

You might also like